Badai siklon dahsyat kembali melanda kawasan Samudra Hindia bagian barat daya. Kali ini, Madagaskar dilaporkan mengalami kerusakan besar setelah diterjang Siklon Gezani yang menewaskan sedikitnya 35 orang dan memaksa ribuan warga mengungsi dari rumah mereka.
Siklon dengan angin kencang tersebut menghantam pada Selasa, 10 Februari 2026, dan menerjang kota pesisir timur Toamasina, kota terbesar kedua di Madagaskar. Kecepatan angin saat pendaratan dilaporkan mencapai 250 kilometer per jam, menjadikannya salah satu badai paling kuat yang tercatat dalam beberapa dekade terakhir di wilayah tersebut.
Kantor Nasional untuk Manajemen Risiko dan Bencana Madagaskar (BNRGC) pada Kamis menyampaikan bahwa pihaknya telah mencatat 35 kematian akibat siklon ini. Selain itu, enam orang masih dilaporkan hilang dan sedikitnya 374 orang mengalami luka-luka.
“Lebih dari 8.800 orang mengungsi,” ujar otoritas setempat dalam laporan resminya.
Kerusakan paling parah terjadi di Toamasina dan wilayah sekitarnya. Pemimpin baru Madagaskar, Kolonel Michael Randrianirina, menyerukan solidaritas internasional untuk membantu negaranya menghadapi dampak bencana yang sangat luas.
Ia menyatakan bahwa siklon tersebut telah “menghancurkan hingga 75 persen Toamasina dan sekitarnya.” Pernyataan ini menegaskan betapa besar skala kehancuran yang dialami kota dengan populasi sekitar 400.000 jiwa tersebut.
Gambar-gambar yang dirilis AFP pada Rabu memperlihatkan kondisi Toamasina yang porak-poranda. Ratusan pohon tumbang akibat terpaan angin ekstrem, atap bangunan terlepas, serta jalan-jalan utama tergenang banjir. Warga terlihat berjalan di tengah genangan air, sementara puing-puing berserakan di berbagai sudut kota.
Staf kemanusiaan dan tim penyelamat bekerja hingga larut malam untuk membersihkan jalan-jalan yang terblokir oleh reruntuhan. Upaya ini dilakukan agar bantuan darurat dapat segera masuk ke wilayah terdampak dan akses transportasi kembali terbuka.
Menurut BNRGC, lebih dari 18.000 rumah hancur akibat siklon tersebut. Selain itu, sekitar 50.000 rumah lainnya dilaporkan rusak atau terendam banjir. Angka ini menunjukkan bahwa bencana tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan krisis kemanusiaan dengan ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal.
Badai juga menimbulkan kerusakan parah di wilayah Atsinanana yang mengelilingi Toamasina. Pemerintah menyebut bahwa penilaian pasca-bencana masih berlangsung, sehingga angka kerusakan dan korban kemungkinan masih dapat bertambah dalam beberapa hari ke depan.
Pusat prakiraan cuaca CMRS di Pulau Reunion, Prancis, mengonfirmasi bahwa Toamasina terkena langsung bagian paling dahsyat dari badai tersebut. Mereka menyebut pendaratan Siklon Gezani sebagai salah satu yang paling kuat dalam era satelit, menyaingi Siklon Geralda pada Februari 1994.
Siklon Geralda dikenal sebagai salah satu bencana paling mematikan di Madagaskar, yang menewaskan sedikitnya 200 orang dan memengaruhi lebih dari setengah juta penduduk. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Gezani merupakan ancaman besar yang dapat meninggalkan dampak jangka panjang bagi negara pulau tersebut.
Meski melemah setelah mendarat, Gezani masih terus menyapu Madagaskar sebagai badai tropis hingga Rabu malam. Para ahli meteorologi memperkirakan badai ini akan kembali menguat menjadi siklon ketika mencapai Selat Mozambik.
CMRS memperingatkan bahwa Gezani berpotensi menghantam Mozambik bagian selatan mulai Jumat malam. Wilayah tersebut sendiri telah menghadapi banjir besar sejak awal tahun, sehingga kedatangan siklon baru dapat memperburuk kondisi kemanusiaan.
Musim siklon di Samudra Hindia bagian barat daya biasanya berlangsung dari November hingga April, dengan sekitar selusin badai terjadi setiap tahunnya. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan menyoroti bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan intensitas badai tropis, membuat siklon lebih kuat dan lebih merusak.
Madagaskar sebagai negara kepulauan yang rentan sering kali menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Infrastruktur yang terbatas, kondisi ekonomi yang menantang, serta lokasi geografis di jalur siklon membuat negara ini menghadapi risiko tinggi setiap musim badai.
Kini, fokus utama pemerintah Madagaskar dan komunitas internasional adalah penanganan korban, pemulihan infrastruktur, serta bantuan bagi ribuan pengungsi yang kehilangan rumah. Seruan solidaritas internasional yang disampaikan pemimpin Madagaskar menjadi tanda bahwa negara ini membutuhkan dukungan besar untuk bangkit dari bencana yang menghancurkan.
Siklon Gezani menjadi pengingat bahwa bencana alam berskala besar dapat terjadi kapan saja, dan kesiapsiagaan serta kerja sama global sangat penting untuk mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.
Baca juga : 3 Pelajar Siram Air Keras di Cempaka Putih, Pramono Minta Tindak Tegas
Cek Juga Artikel Dari Platform : capoeiravadiacao

