Ibu kota Kyiv kembali menjadi sasaran serangan besar Rusia. Pada Kamis malam, 8 Januari 2026, Rusia meluncurkan gelombang rudal balistik hipersonik ke berbagai titik strategis di Ukraina, dengan fokus utama pada pusat pemerintahan dan infrastruktur vital di Kyiv. Serangan ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai puluhan warga sipil, sekaligus memicu kekhawatiran baru tentang eskalasi konflik di tengah musim dingin ekstrem.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menegaskan bahwa Moskow secara sengaja memanfaatkan suhu ekstrem untuk melumpuhkan sistem energi dan menekan ketahanan sipil. Pada malam serangan, suhu udara di Kyiv dilaporkan turun hingga minus 15 derajat Celsius, menciptakan kondisi yang sangat berbahaya bagi warga ketika pemanas dan listrik terputus.
Rudal Hipersonik Oresnik Kembali Digunakan
Otoritas Ukraina mengonfirmasi bahwa Rusia menggunakan rudal balistik hipersonik Oresnik, senjata berkecepatan tinggi yang sulit dicegat sistem pertahanan udara. Ini merupakan kali kedua Oresnik digunakan sejak pertama kali dilaporkan pada November 2024. Selain itu, Rusia juga meluncurkan 13 rudal balistik lainnya, 22 rudal jelajah, serta lebih dari 240 drone dalam satu rangkaian serangan terkoordinasi.
Menurut analis militer Ukraina, kombinasi senjata tersebut dirancang untuk menguras kemampuan pertahanan udara sekaligus memastikan sebagian serangan menembus perlindungan. Ledakan keras terdengar selama berjam-jam di Kyiv dan meluas hingga wilayah Ukraina Barat, menandakan skala serangan yang tidak biasa.
Infrastruktur Energi Jadi Sasaran Utama
Serangan intensif ini menargetkan fasilitas energi dan distribusi listrik, termasuk jaringan pemanas distrik. Dampaknya langsung terasa di Kyiv, di mana ribuan gedung dilaporkan kehilangan pemanas dan aliran listrik. Situasi serupa juga terjadi di wilayah Lviv, yang letaknya dekat perbatasan Polandia, memicu kekhawatiran akan dampak lintas batas.
Zelenskyy menyebutkan bahwa Rusia berupaya memaksimalkan penderitaan warga sipil dengan menyerang fasilitas energi saat suhu berada pada titik terendah. Tanpa pemanas, warga menghadapi risiko hipotermia, terutama anak-anak dan lansia. Pemerintah setempat pun membuka pusat penghangatan darurat di sejumlah lokasi.
Korban Berjatuhan, Petugas Medis Jadi Sasaran
Dalam serangan tersebut, seorang petugas medis dilaporkan tewas ketika rudal susulan menghantam area evakuasi. Sejumlah petugas penyelamat lainnya mengalami luka-luka saat berusaha menolong korban. Insiden ini memperkuat tudingan Ukraina bahwa Rusia sengaja menyerang fase penyelamatan untuk memperbesar dampak psikologis.
Rumah sakit di Kyiv bekerja dalam kondisi darurat. Generator cadangan diaktifkan untuk menjaga layanan medis tetap berjalan, meski pasokan listrik terbatas. Pemerintah Ukraina menyatakan prioritas utama adalah memastikan layanan kesehatan, air bersih, dan pemanas darurat tetap tersedia.
Klaim Balasan dan Bantahan Ukraina
Pemerintah Rusia mengklaim serangan tersebut sebagai balasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin. Namun, klaim ini dibantah keras oleh Kyiv. Ukraina menyebut tuduhan tersebut sebagai dalih untuk membenarkan eskalasi militer dan serangan terhadap target sipil.
Sejumlah pengamat internasional menilai narasi balasan kerap digunakan Moskow untuk meningkatkan tekanan militer pada momen-momen strategis, termasuk saat kondisi cuaca ekstrem yang membatasi mobilitas dan respons darurat.
Uni Eropa Angkat Suara
Penggunaan kembali rudal hipersonik Oresnik memicu reaksi keras dari Uni Eropa. Para pejabat UE menyebut langkah Rusia sebagai “peringatan serius” bagi keamanan kawasan Eropa, mengingat kecepatan dan daya rusak senjata tersebut.
Sejumlah negara anggota menyerukan penguatan pertahanan udara Ukraina serta peningkatan bantuan kemanusiaan selama musim dingin. Serangan di dekat perbatasan Polandia juga meningkatkan kewaspadaan NATO terhadap potensi eskalasi regional.
Perbaikan Berjalan di Tengah Serangan
Zelenskyy menegaskan bahwa kru perbaikan terus bekerja di berbagai wilayah, termasuk Kyiv dan sekitarnya, Dnipro, Lviv, Kirovohrad, Cherkasy, dan Odesa. Upaya pemulihan dilakukan meski ancaman serangan lanjutan masih ada.
“Pekerjaan perbaikan sedang berlangsung di komunitas kami. Rusia memanfaatkan cuaca dan hawa dingin untuk menghancurkan fasilitas energi kami,” ujar Zelenskyy dalam pernyataan yang dikutip dari Metro Pagi Primetime.
Pemerintah Ukraina mengerahkan personel tambahan dan meminta warga menghemat energi. Bantuan internasional berupa generator, peralatan pemanas, dan bahan bakar darurat juga mulai disalurkan.
Musim Dingin Jadi Medan Pertempuran Baru
Serangan ini menegaskan bahwa musim dingin kembali menjadi medan pertempuran strategis dalam konflik Rusia–Ukraina. Dengan menargetkan energi saat suhu ekstrem, Rusia berupaya melemahkan ketahanan sipil dan menekan pemerintah Ukraina dari dalam.
Bagi warga Kyiv, malam itu menjadi pengingat pahit bahwa perang belum mereda. Di tengah gelap dan dingin, suara ledakan dan sirene menandai fase baru konflik yang semakin menguji daya tahan masyarakat Ukraina dan solidaritas internasional.
Seiring berlanjutnya musim dingin, perhatian dunia tertuju pada apakah serangan semacam ini akan terus berulang, serta seberapa jauh dampaknya terhadap stabilitas kawasan Eropa secara keseluruhan.
Baca Juga : Patrick Winata Hampir Menyerah Sebelum Pecahkan Rekor Tinju 24 Jam
Cek Juga Artikel Dari Platform : ngobrol

