Gelombang protes besar kembali mengguncang Iran setelah nilai mata uang nasional terpuruk tajam dan inflasi melonjak. Demonstrasi yang awalnya dipicu tekanan ekonomi kini berkembang menjadi kerusuhan di berbagai kota, menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai puluhan lainnya. Aparat keamanan meningkatkan operasi pengamanan, sementara pemerintah menghadapi tekanan politik yang kian menguat dari jalanan.
Krisis Ekonomi Jadi Pemicu Awal
Aksi protes mulai merebak sejak Minggu, berawal dari ibu kota Teheran. Para pemilik toko memilih menutup usaha sebagai bentuk protes terhadap melonjaknya harga barang, melemahnya daya beli, serta stagnasi ekonomi yang berkepanjangan. Nilai tukar mata uang Iran terus tertekan, memperparah biaya impor dan mendorong inflasi pada kebutuhan pokok.
Dalam beberapa hari, protes menyebar ke kota-kota lain. Awalnya, tuntutan berfokus pada perbaikan ekonomi—harga pangan, lapangan kerja, dan stabilitas mata uang. Namun, seiring eskalasi, sebagian demonstrasi beralih menjadi kritik politik terbuka terhadap kepemimpinan nasional.
Dari Tuntutan Ekonomi ke Seruan Politik
Sejumlah unjuk rasa mulai diwarnai slogan menentang Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Teriakan untuk perubahan sistem bahkan penggulingan rezim terdengar di beberapa titik. Perubahan arah tuntutan ini meningkatkan tensi antara demonstran dan aparat keamanan.
Media pemerintah melaporkan bentrokan di beberapa provinsi. Kantor berita Fars menyebut dua orang tewas di Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, serta tiga orang di Azna, Provinsi Lorestan. Sementara itu, televisi pemerintah melaporkan satu korban tewas dari pihak keamanan di kota Kuhdasht, wilayah barat Iran.
Bentrokan dan Korban Jiwa
Korban dari pihak keamanan disebut sebagai anggota Basij, pasukan paramiliter sukarelawan yang kerap dikerahkan untuk menjaga ketertiban dalam situasi protes. Wakil Gubernur Provinsi Lorestan, Said Pourali, menyatakan korban berusia 21 tahun tewas akibat serangan “perusuh” saat menjalankan tugas.
Pourali juga mengonfirmasi bahwa selama bentrokan di Kuhdasht, sedikitnya 13 petugas polisi dan anggota Basij mengalami luka akibat lemparan batu. Di ibu kota, kantor berita Tasnim melaporkan penangkapan 30 orang di satu distrik Teheran dalam operasi terkoordinasi aparat keamanan dan intelijen.
Basij sendiri berada di bawah payung Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), institusi yang memegang peran sentral dalam keamanan dan politik Iran. Keterlibatan Basij dan IRGC kerap menjadi sorotan dalam setiap gelombang protes nasional.
Inflasi, Mata Uang, dan Tekanan Sosial
Pelemahan mata uang Iran bukan fenomena baru. Kombinasi sanksi internasional, keterbatasan akses ke pasar global, serta kebijakan ekonomi domestik telah menekan nilai tukar selama bertahun-tahun. Namun, percepatan penurunan nilai tukar dalam beberapa bulan terakhir membuat harga kebutuhan pokok melonjak cepat.
Bagi masyarakat kelas menengah dan bawah, inflasi berarti penurunan drastis kualitas hidup. Upah tidak mengikuti kenaikan harga, sementara tabungan tergerus. Kondisi ini menjadikan isu ekonomi sebagai pemicu paling sensitif yang mudah berubah menjadi protes massal.
Respons Negara dan Peningkatan Keamanan
Pemerintah Iran menegaskan akan menjaga ketertiban umum dan menindak tegas aksi yang dianggap merusak fasilitas publik atau mengancam keselamatan. Operasi keamanan diperluas di titik-titik rawan, termasuk patroli tambahan dan pembatasan aktivitas di beberapa wilayah.
Meski demikian, otoritas juga menyampaikan bahwa hak menyampaikan pendapat diakui, selama dilakukan secara damai. Pernyataan ini kerap disampaikan dalam setiap gelombang protes, namun praktik di lapangan sering kali diwarnai tindakan represif ketika eskalasi meningkat.
Pola Berulang dalam Sejarah Protes Iran
Sejarah Iran menunjukkan pola berulang: tekanan ekonomi memicu protes sosial, yang kemudian berpotensi berubah menjadi tuntutan politik. Hal ini terjadi pada berbagai periode, termasuk demonstrasi besar beberapa tahun terakhir. Setiap kali, negara merespons dengan kombinasi langkah keamanan dan janji perbaikan ekonomi.
Namun, tanpa pemulihan fundamental pada stabilitas mata uang dan inflasi, potensi protes susulan tetap tinggi. Pengamat menilai bahwa keberlanjutan krisis ekonomi akan terus menjadi bahan bakar ketidakpuasan publik.
Dampak Regional dan Internasional
Situasi domestik Iran juga diawasi ketat oleh komunitas internasional. Ketidakstabilan internal berpotensi memengaruhi kebijakan luar negeri, energi, dan keamanan regional Timur Tengah. Negara-negara mitra dan pesaing sama-sama mencermati apakah pemerintah Iran akan mengedepankan reformasi ekonomi atau memperketat kontrol keamanan.
Penutup: Krisis yang Belum Usai
Kerusuhan terbaru ini menegaskan bahwa krisis ekonomi Iran telah mencapai titik yang memicu dampak sosial dan politik serius. Enam korban jiwa menjadi pengingat mahalnya biaya dari tekanan inflasi dan anjloknya mata uang. Selama solusi ekonomi yang kredibel belum terwujud, ketegangan antara negara dan masyarakat berpotensi terus berulang—dengan risiko eskalasi yang semakin besar.
Baca Juga : Putri Kim Jong-un Kunjungi Mausoleum, Sinyal Suksesi Menguat
Cek Juga Artikel Dari Platform : mabar

