Korban Jiwa Bencana di Aceh dan Sumatera Barat Bertambah
Jumlah korban jiwa akibat rangkaian bencana alam yang melanda wilayah Aceh dan Sumatera Barat kembali bertambah. Berdasarkan hasil pendataan terbaru hingga Jumat, 26 Desember, tercatat dua orang tambahan meninggal dunia akibat dampak langsung bencana yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Informasi ini disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui pusat data dan informasi kebencanaan nasional.
Kondisi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung cukup lama menjadi pemicu utama terjadinya berbagai peristiwa bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang di sejumlah kabupaten dan kota. Wilayah Aceh dan Sumatera Barat termasuk daerah yang paling terdampak karena memiliki kontur geografis perbukitan serta banyak kawasan aliran sungai yang rentan meluap saat curah hujan meningkat tajam.
Penjelasan BNPB Terkait Data Korban
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa penambahan korban jiwa ini merupakan hasil verifikasi lapangan yang dilakukan bersama pemerintah daerah, BPBD setempat, dan tim gabungan.
Menurutnya, proses pendataan korban bencana membutuhkan waktu karena harus memastikan validitas informasi, kondisi korban, serta keterkaitan langsung dengan peristiwa bencana. BNPB menekankan bahwa setiap data yang dirilis telah melalui tahapan klarifikasi untuk menghindari kekeliruan informasi di tengah situasi darurat.
“Pendataan korban jiwa dilakukan secara bertahap seiring dengan proses evakuasi dan pelaporan dari daerah terdampak. Hingga laporan terakhir, terdapat penambahan dua korban meninggal dunia akibat bencana di Aceh dan Sumatera Barat,” ungkap Abdul Muhari dalam keterangannya.
Dampak Bencana di Wilayah Aceh
Di Aceh, bencana banjir dan longsor terjadi di beberapa kabupaten yang sebelumnya sudah berstatus siaga akibat intensitas hujan tinggi. Luapan sungai menggenangi permukiman warga, lahan pertanian, serta memutus akses jalan penghubung antarwilayah. Dalam beberapa kasus, arus banjir yang deras menyeret material lumpur dan kayu, sehingga menyulitkan proses evakuasi.
Korban jiwa di Aceh dilaporkan berasal dari wilayah yang terdampak longsor. Medan yang sulit, ditambah kondisi tanah yang labil, membuat upaya penyelamatan sempat terhambat. Tim SAR gabungan harus bekerja ekstra dengan peralatan terbatas untuk menjangkau lokasi kejadian, terutama di daerah perbukitan dan pedalaman.
Selain korban jiwa, ribuan warga Aceh juga dilaporkan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Mereka meninggalkan rumah karena khawatir terjadi banjir susulan atau longsor lanjutan, mengingat prakiraan cuaca masih menunjukkan potensi hujan lebat dalam beberapa hari ke depan.
Situasi Terkini di Sumatera Barat
Sementara itu, di Sumatera Barat, bencana hidrometeorologi juga menimbulkan dampak signifikan. Banjir bandang dan tanah longsor dilaporkan terjadi di beberapa titik rawan, terutama di wilayah dengan kemiringan lereng yang curam dan sistem drainase yang kurang memadai.
Korban jiwa tambahan di Sumatera Barat disebutkan berasal dari kejadian banjir yang datang secara tiba-tiba. Kondisi ini membuat warga tidak sempat menyelamatkan diri. Aparat setempat bersama relawan masih terus melakukan pencarian dan pemantauan di lokasi-lokasi rawan untuk memastikan tidak ada korban lain yang belum terdata.
Selain korban meninggal, puluhan warga mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis. Fasilitas kesehatan setempat beroperasi dengan dukungan tenaga medis tambahan untuk menangani warga terdampak, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Upaya Evakuasi dan Penanganan Darurat
BNPB bersama BPBD provinsi dan kabupaten/kota terus mengerahkan sumber daya untuk penanganan darurat. Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, relawan, serta unsur masyarakat setempat dikerahkan untuk membantu evakuasi, pendirian pos pengungsian, dan distribusi logistik.
Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga, memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, serta membuka kembali akses jalan yang terputus. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor dan lumpur yang menutup jalur transportasi, agar bantuan dapat masuk dengan lancar.
BNPB juga menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, matras, serta kebutuhan khusus bagi bayi dan lansia. Koordinasi lintas sektor dilakukan secara intensif agar bantuan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Imbauan Kewaspadaan kepada Masyarakat
Melihat kondisi cuaca yang masih berpotensi ekstrem, BNPB mengimbau masyarakat di wilayah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga yang tinggal di dekat bantaran sungai, lereng perbukitan, dan daerah rawan longsor diminta untuk selalu memantau informasi cuaca serta peringatan dini dari pemerintah daerah.
Masyarakat juga diingatkan agar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika hujan deras berlangsung dalam durasi lama atau muncul tanda-tanda awal bencana, seperti retakan tanah, debit air sungai yang naik drastis, dan suara gemuruh dari arah perbukitan.
Peran aktif masyarakat dalam melaporkan kondisi darurat kepada aparat setempat dinilai sangat penting untuk mempercepat proses penanganan dan meminimalkan risiko korban jiwa.
Tantangan Penanggulangan Bencana Akhir Tahun
Periode akhir tahun kerap menjadi waktu dengan risiko bencana tinggi di Indonesia, terutama bencana hidrometeorologi. Perubahan iklim global turut mempengaruhi pola cuaca, sehingga hujan dengan intensitas tinggi dapat terjadi dalam waktu singkat namun berdampak besar.
BNPB menilai bahwa penguatan mitigasi bencana di tingkat daerah menjadi kunci untuk mengurangi dampak kejadian serupa di masa mendatang. Upaya tersebut mencakup perbaikan tata ruang, penguatan sistem peringatan dini, serta edukasi kebencanaan kepada masyarakat secara berkelanjutan.
Harapan ke Depan
Dengan bertambahnya korban jiwa di Aceh dan Sumatera Barat, pemerintah pusat dan daerah kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap bencana. Penanganan tidak hanya difokuskan pada fase darurat, tetapi juga pemulihan pascabencana agar masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal.
BNPB berharap sinergi antara pemerintah, relawan, dunia usaha, dan masyarakat dapat terus terjaga. Kesadaran kolektif dan kesiapsiagaan bersama menjadi faktor penting dalam menekan risiko dan dampak bencana di masa mendatang, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi seperti Aceh dan Sumatera Barat.
Baca Juga : ValenTIMES Night Run 2026, Valentine Sehat di Banyuwangi
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : kalbarnews

