festajunina.site Bagi warga Desa Kalipucang dan sejumlah wilayah di Kabupaten Batang, musim hujan tak lagi sekadar membawa kesejukan. Aroma tanah basah yang biasanya menenangkan justru menjadi tanda kewaspadaan. Luapan sungai yang datang hampir setiap tahun telah berubah menjadi ancaman rutin yang mengganggu kehidupan masyarakat.
Air yang meluber dari aliran sungai kerap masuk ke rumah warga, menutup akses jalan, hingga merendam lahan pertanian. Banjir musiman ini tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memukul sektor ekonomi dan ketahanan pangan warga desa.
Ribuan Warga Terdampak Banjir
Data dari pusat pengendalian bencana daerah mencatat sejumlah titik rawan banjir tersebar di beberapa kawasan strategis Kabupaten Batang. Wilayah seperti Kalipucang, Watusalit, Karangasem Utara, Klidang Lor, hingga Kauman menjadi daerah yang paling sering terdampak.
Akibat genangan tersebut, ribuan warga harus menghadapi aktivitas yang terganggu. Sebagian lahan pertanian tidak dapat digarap secara optimal, sementara permukiman padat penduduk kerap terisolasi saat debit air meningkat.
Situasi ini menuntut penanganan yang tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
Bupati Turun Langsung ke Lapangan
Melihat kondisi tersebut, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan memilih turun langsung ke lapangan. Bersama jajaran teknis dari dinas terkait dan BPBD, ia menyusuri kawasan permukiman yang terendam banjir.
Gang-gang sempit di Karangasem Utara menjadi salah satu titik yang dikunjungi. Dengan sepatu bot yang terendam air, bupati berdialog langsung dengan warga untuk mendengar keluhan dan kebutuhan mereka.
Langkah ini dilakukan agar kebijakan yang diambil benar-benar berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar laporan di atas meja.
Aspirasi Warga Jadi Dasar Kebijakan
Dalam dialog tersebut, warga menyampaikan bahwa banjir bukan persoalan baru. Penyempitan aliran sungai, sedimentasi, dan perubahan fungsi lahan menjadi penyebab utama air sulit mengalir saat hujan deras.
Warga berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi permanen agar banjir tidak terus menjadi peristiwa tahunan. Aspirasi inilah yang kemudian menjadi bahan utama dalam rapat darurat yang digelar setelah peninjauan lapangan.
Rapat Darurat Hingga Larut Malam
Usai kunjungan lapangan, pemerintah daerah langsung menggelar rapat darurat di rumah dinas bupati. Pertemuan tersebut melibatkan dinas teknis, perencana, dan unsur penanggulangan bencana.
Fokus utama rapat adalah menyusun langkah konkret yang dapat segera dijalankan sekaligus mempersiapkan program jangka panjang. Pemerintah menyadari bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial.
Embung Kalipucang Jadi Solusi Strategis
Salah satu solusi besar yang dirancang adalah pembangunan Embung Kalipucang. Proyek ini diproyeksikan bernilai sekitar Rp26 miliar dan telah diusulkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Embung tersebut dirancang memiliki fungsi ganda. Selain sebagai pengendali banjir, embung juga akan menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian seluas lebih dari seratus hektare di beberapa desa.
Keberadaan embung diharapkan mampu menahan limpasan air hujan sebelum mengalir ke permukiman warga.
Normalisasi Sungai Jadi Fokus Utama
Selain pembangunan embung, normalisasi sungai menjadi langkah yang dianggap mutlak. Pemerintah daerah menilai banyak aliran sungai mengalami penyempitan akibat sedimentasi dan alih fungsi lahan.
Normalisasi akan mencakup pengerukan sungai, pelebaran alur air, serta pengembalian fungsi sempadan sungai. Langkah ini membutuhkan kesadaran bersama karena sebagian lahan di bantaran sungai telah dimanfaatkan untuk bangunan.
Bupati menegaskan bahwa upaya ini harus dilakukan demi keselamatan bersama, meskipun membutuhkan proses sosial yang tidak mudah.
Kolaborasi Lintas Kewenangan
Penanganan banjir di Kabupaten Batang tidak bisa dilakukan oleh pemerintah daerah semata. Sebagian kewenangan berada di tingkat provinsi, sehingga diperlukan koordinasi intensif.
Pemerintah kabupaten terus melakukan komunikasi dan lobi agar program prioritas seperti embung dan normalisasi sungai mendapatkan dukungan anggaran serta percepatan pelaksanaan.
Kolaborasi lintas pemerintahan menjadi kunci agar solusi tidak terhambat oleh batas administratif.
Langkah Mandiri Tetap Dijalankan
Meski menunggu keputusan dari pemerintah provinsi, Bupati Faiz menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan berdiam diri. Sejumlah langkah yang dapat dilakukan secara mandiri tetap dijalankan.
Mulai dari pembersihan saluran, penanganan titik rawan, hingga perbaikan drainase lingkungan dilakukan secara bertahap. Langkah-langkah ini bertujuan mengurangi risiko banjir sambil menunggu proyek besar terealisasi.
Harapan bagi Ketahanan Pertanian
Banjir yang berulang selama ini berdampak besar pada sektor pertanian. Sawah yang terendam membuat masa tanam terganggu dan produktivitas menurun.
Dengan hadirnya embung dan sistem pengelolaan air yang lebih baik, pemerintah berharap petani dapat kembali berproduksi secara optimal. Stabilitas pertanian menjadi kunci penting bagi perekonomian desa.
Membangun Ketahanan Wilayah
Langkah penanganan banjir tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga ketahanan wilayah jangka panjang. Pemerintah daerah berupaya membangun sistem yang adaptif terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem.
Penataan ruang, perlindungan daerah resapan air, serta edukasi masyarakat menjadi bagian dari strategi menyeluruh yang tengah disiapkan.
Penutup
Upaya Bupati Batang dalam menangani banjir menunjukkan komitmen nyata pemerintah daerah terhadap keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Normalisasi sungai dan pembangunan embung menjadi dua pilar utama solusi jangka panjang.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat, diharapkan Kabupaten Batang dapat keluar dari siklus banjir tahunan. Langkah ini bukan sekadar mengatasi genangan air, tetapi membangun masa depan wilayah yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.

Cek Juga Artikel Dari Platform dapurkuliner.com
