Atlet sekaligus aktivis sosial Patrick Winata akhirnya mencatatkan namanya dalam sejarah dunia olahraga setelah berhasil memecahkan rekor Guinness World Records dengan melakukan tinju tanpa henti selama 24 jam. Namun, di balik capaian monumental tersebut, tersimpan cerita perjuangan panjang yang nyaris berakhir dengan keputusan mundur sebelum hari penentuan.
Patrick mengungkapkan bahwa momen terberat justru terjadi bukan saat pelaksanaan rekor, melainkan selama masa persiapan. Latihan yang ekstrem, tekanan mental, hingga persoalan pendanaan membuatnya berada di titik terendah dalam perjalanan tersebut.
Latihan Empat Bulan yang Menguras Fisik dan Mental
Untuk menghadapi tantangan tinju nonstop selama 24 jam, Patrick menjalani program latihan intensif selama kurang lebih empat bulan. Selama periode tersebut, ia harus menyesuaikan seluruh aspek hidupnya, mulai dari pola tidur, asupan nutrisi, hingga ritme latihan harian.
Latihan fisik dilakukan secara bertahap namun konsisten. Daya tahan tubuh menjadi fokus utama karena tantangan 24 jam bertinju bukan sekadar soal teknik, tetapi kemampuan bertahan dalam kondisi kelelahan ekstrem. Selain latihan kekuatan dan kardio, Patrick juga melatih konsentrasi dan ketahanan mental agar tetap fokus meski tubuh sudah berada di batas kemampuan.
Pola makan pun dijaga ketat. Setiap asupan diperhitungkan untuk memastikan tubuh tetap mendapat energi cukup tanpa membebani pencernaan. Semua dilakukan demi satu tujuan, yakni menyiapkan tubuh menghadapi tekanan ekstrem selama satu hari penuh.
Titik Terberat Justru Datang Saat Persiapan
Dalam pengakuannya, Patrick menyebut bahwa keinginan untuk mundur muncul saat latihan mencapai intensitas tertinggi. Rasa sakit yang menumpuk, kelelahan berkepanjangan, dan tekanan psikologis membuatnya sempat mempertanyakan keputusannya sendiri.
“Saat persiapan itu, di mana saat saya mau mundur itu sebenarnya di latihan. Bukan di hari H,” ujar Patrick saat menjadi narasumber di program Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Sabtu, 10 Januari 2026.
Ia menggambarkan fase tersebut sebagai periode paling berat sepanjang hidupnya. Seluruh tubuh terasa sakit. Tangan membengkak akibat intensitas pukulan yang terus diulang. Rasa nyeri datang hampir di setiap sendi, sementara waktu pemulihan terasa tidak pernah cukup.
Tekanan Mental dan Masalah Sponsor
Selain beban fisik, Patrick juga harus menghadapi tekanan mental yang tidak kalah berat. Di tengah latihan yang semakin keras, ia masih bergulat dengan persoalan sponsor. Hingga mendekati pelaksanaan, dukungan pendanaan belum sepenuhnya terpenuhi.
Situasi tersebut menambah beban pikiran. Di satu sisi, ia harus tetap fokus berlatih. Di sisi lain, ada kekhawatiran apakah misi besar ini bisa benar-benar terlaksana tanpa dukungan finansial yang memadai.
“Bisa dibayangkan yang berat fisik dan mental itu saat-saat di mana saya hampir mundur,” ungkap Patrick. Ia mengakui bahwa tekanan bertubi-tubi tersebut sempat membuatnya merasa sendirian dan kehabisan energi, baik secara jasmani maupun emosional.
Alasan Kuat di Balik Keputusan Bertahan
Meski berada di ambang menyerah, Patrick akhirnya memilih untuk bertahan. Keputusan tersebut bukan semata didorong ambisi pribadi, melainkan oleh misi sosial yang melekat pada upaya pemecahan rekor ini.
Tinju 24 jam yang ia lakukan bukan hanya untuk mencatatkan prestasi, tetapi juga untuk menggalang perhatian dan dukungan bagi anak-anak pengidap kanker. Ia menyadari bahwa jika dirinya mundur, harapan banyak anak dan keluarga yang menantikan bantuan akan ikut pupus.
Pemikiran inilah yang menjadi titik balik. Patrick kembali meneguhkan niatnya dan melanjutkan latihan meski tubuh terasa menolak. Setiap rasa sakit ia maknai sebagai bagian dari perjuangan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Hari Penentuan yang Berujung Sejarah
Ketika hari pelaksanaan tiba, Patrick justru merasa lebih siap secara mental dibandingkan masa latihan. Semua rasa sakit yang dialami sebelumnya menjadi bekal berharga untuk menghadapi tantangan sesungguhnya.
Selama 24 jam bertinju tanpa henti, ia harus menjaga konsistensi, teknik, dan fokus. Setiap jam menjadi ujian tersendiri. Rasa lelah datang silih berganti, tetapi tekad untuk menyelesaikan misi membuatnya terus melangkah.
Akhirnya, Patrick berhasil menuntaskan tantangan tersebut dan mencatatkan rekor dunia. Prestasi ini tidak hanya mengharumkan namanya, tetapi juga membawa pesan kuat tentang ketekunan, empati, dan kekuatan tujuan sosial dalam dunia olahraga.
Lebih dari Sekadar Rekor Dunia
Bagi Patrick, rekor Guinness World Records hanyalah satu bagian dari perjalanan. Yang jauh lebih penting adalah dampak yang dihasilkan. Melalui aksi ini, ia berharap olahraga dapat menjadi medium perubahan sosial, sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk tidak mudah menyerah pada keadaan.
Kisah Patrick Winata menunjukkan bahwa pencapaian besar sering kali lahir dari momen-momen hampir menyerah. Ketika fisik dan mental berada di titik terendah, justru di sanalah karakter seseorang diuji. Dari latihan yang menyakitkan hingga tekanan tanpa sponsor, semuanya menjadi bagian dari cerita di balik rekor dunia yang kini tercatat dalam sejarah.
Keberhasilan Patrick menjadi pengingat bahwa di balik sorotan prestasi, selalu ada perjuangan sunyi yang jarang terlihat.
Baca Juga : Pendaftaran PPPK KemenHAM 2026 Masih Dibuka, Ini Gaji Lengkapnya
Cek Juga Artikel Dari Platform : otomotifmotorindo

