Momen Simbolik di Jantung Kekuasaan Korea Utara
Kunjungan publik pertama Kim Ju-ae ke mausoleum keluarga Kim menjadi sorotan besar di dalam dan luar Korea Utara. Momen tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sarat makna politik dan simbolik dalam konteks suksesi kepemimpinan negara yang sangat tertutup dan berideologi dinasti itu.
Foto-foto kunjungan Kim Ju-ae dirilis oleh kantor berita pemerintah KCNA pada Jumat (2/1/2026). Dalam publikasi tersebut, Kim Ju-ae tampak mendampingi ayahnya, Kim Jong-un, saat memberikan penghormatan di mausoleum keluarga Kim. Ini menjadi kali pertama putri Kim Jong-un tampil di lokasi yang selama puluhan tahun diposisikan sebagai pusat spiritual dan ideologis kekuasaan Korea Utara.
Mausoleum Kumsusan dan Makna Garis Keturunan
Mausoleum yang dikunjungi Kim Ju-ae adalah Istana Matahari Kumsusan, tempat peristirahatan terakhir dua tokoh sentral dalam sejarah Korea Utara: Kim Il-sung dan Kim Jong-il. Kedua figur ini dipuja sebagai “pemimpin abadi” dan menjadi fondasi ideologi negara yang menempatkan keluarga Kim sebagai pusat legitimasi kekuasaan.
Dalam doktrin resmi negara, kekuasaan keluarga Kim berakar pada apa yang disebut “garis keturunan Paektu”, merujuk pada Gunung Paektu yang dianggap suci dalam mitologi negara. Setiap simbol, gestur, dan penampilan publik yang terkait dengan garis keturunan ini memiliki bobot politik yang sangat besar.
Kehadiran Kim Ju-ae di Istana Matahari Kumsusan karena itu dipandang bukan sekadar kunjungan keluarga, melainkan pengenalan simbolik kepada rakyat Korea Utara bahwa ia adalah bagian sah dari garis keturunan tersebut.
Dari Penampilan Publik ke Isyarat Politik
Sejak pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2022, Kim Ju-ae kerap tampil mendampingi Kim Jong-un dalam acara-acara penting, mulai dari peluncuran rudal balistik antarbenua hingga inspeksi militer. Pola kemunculan ini dinilai berbeda dibandingkan anggota keluarga Kim sebelumnya, yang relatif disembunyikan dari sorotan publik hingga saat-saat krusial.
Analis politik Korea Utara menilai bahwa setiap kemunculan Kim Ju-ae dirancang dengan sangat hati-hati. Tidak ada kebetulan dalam politik simbolik Pyongyang. Kunjungan ke mausoleum keluarga, yang selama ini hanya dihadiri pemimpin tertinggi dan elite inti, memperlihatkan peningkatan status Kim Ju-ae dalam struktur kekuasaan informal.
Tradisi Suksesi dalam Dinasti Kim
Sejarah Korea Utara menunjukkan bahwa transisi kekuasaan selalu disiapkan jauh hari melalui simbol dan propaganda. Kim Il-sung menyiapkan Kim Jong-il sebagai penerus selama bertahun-tahun sebelum wafat. Pola serupa terlihat ketika Kim Jong-un mulai dipromosikan ke publik beberapa tahun sebelum resmi mengambil alih kekuasaan pada 2011.
Perbedaannya, Kim Ju-ae adalah perempuan—sesuatu yang relatif baru dalam konteks kepemimpinan Korea Utara yang sangat maskulin dan militeristik. Meski demikian, tidak ada aturan konstitusional yang melarang perempuan menjadi pemimpin tertinggi. Dalam sistem yang berpusat pada keluarga dan loyalitas ideologis, legitimasi garis keturunan sering kali lebih penting daripada gender.
Pesan ke Dalam Negeri dan Dunia Internasional
Bagi masyarakat Korea Utara, tayangan Kim Ju-ae di mausoleum keluarga berfungsi sebagai pesan visual yang kuat: dinasti Kim berlanjut. Ini penting untuk menjaga stabilitas internal di tengah tantangan ekonomi, sanksi internasional, dan ketegangan geopolitik.
Sementara bagi dunia internasional, kemunculan Kim Ju-ae semakin mempertegas bahwa rezim Pyongyang tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan sistem politik. Korea Utara tetap berpegang pada model kekuasaan terpusat berbasis keluarga, dengan program senjata nuklir sebagai pilar utama pertahanan dan diplomasi.
Antara Spekulasi dan Kenyataan
Meski sinyal-sinyal suksesi semakin kuat, para analis juga mengingatkan bahwa Korea Utara jarang memberikan kejelasan eksplisit terkait rencana kepemimpinan. Kim Jong-un masih relatif muda dan memegang kendali penuh atas militer serta Partai Buruh Korea. Namun, menyiapkan penerus sejak dini merupakan strategi untuk memastikan kelangsungan rezim dalam jangka panjang.
Kunjungan Kim Ju-ae ke mausoleum keluarga dapat dilihat sebagai satu kepingan penting dalam mozaik tersebut. Ia menempatkan Kim Ju-ae tidak hanya sebagai anak pemimpin, tetapi sebagai figur simbolik yang dikaitkan langsung dengan “pemimpin abadi” Korea Utara.
Penutup: Simbol Kecil, Makna Besar
Dalam politik Korea Utara, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada pernyataan resmi. Langkah Kim Ju-ae memasuki Istana Matahari Kumsusan untuk pertama kalinya adalah simbol yang sangat terukur—sebuah pesan sunyi namun tegas tentang masa depan kepemimpinan Pyongyang.
Apakah Kim Ju-ae benar-benar akan menjadi pemimpin Korea Utara di masa depan masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal jelas: dengan setiap kemunculan publik yang dirancang secara simbolik, posisinya dalam narasi kekuasaan Korea Utara semakin diperkuat.
Baca juga : Operasi Antikorupsi Besar Arab Saudi Tangkap 116 Pejabat
Cek Juga Artikel Dari Platform : olahraga

